142 Jemaah Haji Kloter 38 Asal Sultra Masuk Kategori Lansia

SINARKATA.COM, MAKASSAR – Kelompok Terbang (Kloter) 38 UPG Embarkasi Makassar yang membawa jemaah haji asal Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi salah satu kloter dengan jumlah jemaah lanjut usia (lansia) terbanyak pada musim haji tahun ini.

Kondisi tersebut membuat petugas haji memberikan perhatian khusus terhadap kesiapan fisik para jemaah, terutama menjelang puncak ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).

Ketua Kloter 38, Laode Alimaris, mengatakan rombongan yang dipimpinnya terdiri atas jemaah dari delapan kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara, yakni Kabupaten Bombana, Kota Baubau, Kabupaten Buton Selatan, Kabupaten Muna, Muna Barat, Konawe Utara, Kolaka, dan Kolaka Timur.

“Kloter ini terdiri dari jemaah dari delapan kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara,” ujarnya sebelum keberangkatan.

Ia menjelaskan, jemaah tertua di kloter tersebut berusia 89 tahun dan menggunakan kursi roda, sedangkan jemaah termuda berusia 16 tahun.

Dari total jemaah Kloter 38, sebanyak 142 orang tercatat masuk kategori lansia, dengan jumlah perempuan lebih banyak dibanding laki-laki.

Tingginya jumlah jemaah lansia membuat petugas kloter menerapkan langkah antisipatif guna menjaga kondisi kesehatan jemaah tetap stabil hingga pelaksanaan puncak haji.

Menurut Laode, Kloter 38 termasuk dalam gelombang akhir keberangkatan sehingga waktu persiapan menuju Armuzna relatif singkat.

“Setelah tiba di Tanah Suci, fokus utama kami adalah menyelesaikan umrah wajib. Setelah itu, jemaah diarahkan agar tidak terlalu memforsir tenaga untuk ibadah sunnah,” katanya.

Ia menambahkan, sekitar enam hari setelah tiba di Makkah, para jemaah sudah harus menghadapi fase Armuzna yang dikenal sebagai tahapan paling menguras tenaga dalam rangkaian ibadah haji.

Selain faktor usia, cuaca ekstrem di Arab Saudi juga menjadi perhatian serius petugas haji. Suhu panas yang tinggi dinilai berisiko memicu dehidrasi, terutama bagi jemaah lansia yang memiliki daya tahan tubuh lebih rentan.

Karena itu, petugas terus mengingatkan jemaah agar disiplin menjaga asupan cairan selama berada di Tanah Suci.

“Jangan menunggu haus baru minum. Setiap 15 menit dianjurkan minum air meskipun hanya satu atau dua teguk,” ujar Laode.

Ia juga menyarankan jemaah mengonsumsi cairan oralit untuk membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh dan mencegah dehidrasi saat menjalani aktivitas ibadah di tengah cuaca panas.

Kloter 38 merupakan kloter kedua terakhir asal Sulawesi Tenggara. Setelahnya, masih ada Kloter 39 yang juga membawa jemaah asal Sultra dan bergabung dengan jemaah dari Sulawesi Selatan.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bombana, Surahman, optimistis para jemaah tetap mampu menjalankan ibadah haji dengan baik meski sebagian besar telah berusia lanjut.

Menurutnya, semangat spiritual dan niat kuat untuk menunaikan rukun Islam kelima menjadi kekuatan utama para jemaah.

“Saya kira semua kuat dan sehat karena semangatnya untuk segera menunaikan ibadah kepada Tuhan,” katanya.

Ia juga mengimbau seluruh jemaah agar lebih memprioritaskan ibadah wajib dibanding ibadah sunnah demi menjaga kondisi fisik tetap prima hingga seluruh rangkaian ibadah selesai.

“Yang wajib harus diutamakan. Jaga kesehatan supaya seluruh rangkaian ibadah haji bisa dijalankan dengan baik dan jemaah dapat kembali sebagai haji yang mabrur,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *