SINARKATA.COM, MAKASSAR – Penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M menghadirkan tantangan yang semakin kompleks, mulai dari aspek pelayanan, kesehatan jemaah, hingga penyesuaian kebijakan pemerintah Arab Saudi.
Hal tersebut ditegaskan Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Makassar, H. Ikbal Ismail, saat dimintai tanggapannya tentang penyelenggaraan Haji tahun ini, khusus Embarkasi Makassar sebagai salah satu embarkasi terbesar di Indonesia.
Embarkasi Makassar memiliki wilayah layanan yang sangat luas dengan mencakup delapan provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Dimana jemaah asal Gorontalo dan Maluku hanya transit di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar tanpa masuk ke Asrama Haji Embarkasi Makassar sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi.
Menurut H. Ikbal Ismail, kondisi tersebut menuntut pelayanan terpadu yang profesional, responsif, dan humanis agar seluruh kebutuhan jemaah dapat terpenuhi secara optimal, khususnya bagi jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, dan jemaah dengan risiko kesehatan tertentu.
“Pelayanan terpadu menjadi sangat penting karena Embarkasi Makassar melayani jemaah dari wilayah yang sangat luas dengan karakteristik yang beragam. Kami berupaya memastikan seluruh jemaah mendapatkan layanan terbaik sejak masuk embarkasi hingga keberangkatan menuju Tanah Suci,” ujar Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sulsel ini.
Kuota jemaah haji yang tergabung dalam Embarkasi Makassar mencapai 16.543 orang yang terdiri atas jemaah reguler, prioritas lanjut usia, petugas haji daerah (PHD), dan pembimbing ibadah haji KBIHU.
Provinsi Sulawesi Selatan menjadi daerah dengan jumlah kuota terbesar yakni 9.670 orang. Disusul Sulawesi Tenggara sebanyak 2.048 orang, Sulawesi Barat 1.450 orang, Papua 928 orang, Papua Barat 951 orang, Maluku Utara 783 orang, Gorontalo 616 orang, dan Maluku 585 orang.
Berdasarkan jadwal pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji Embarkasi Makassar tahun 1447 H/2026 M, total jemaah dan petugas yang direncanakan diberangkatkan sebanyak 16.750 orang yang tergabung dalam 43 kelompok terbang (kloter).
Namun dalam realisasinya, jumlah jemaah dan petugas yang berhasil diberangkatkan tercatat sebanyak 16.728 orang atau selisih 22 orang dari rencana awal.
Menurut Ikbal Ismail, selisih tersebut disebabkan adanya jemaah dan petugas yang batal berangkat dan tidak dapat diproses penggantiannya.
“Beberapa faktor penyebab pembatalan keberangkatan antara lain kondisi kesehatan jemaah, sakit di daerah asal maupun di embarkasi, perpindahan kloter, hingga adanya kendala administrasi seperti cekal imigrasi,” jelasnya.
Dari total 43 kloter keberangkatan, terdapat 25 open seat atau kursi kosong. Berdasarkan data PPIH Embarkasi Makassar, open seat tersebut disebabkan oleh jemaah hamil sebanyak dua orang, sakit di daerah asal empat orang, sakit di embarkasi 16 orang, pindah kloter dua orang, serta satu orang terkendala cekal imigrasi Arab Saudi.
Ikbal Ismail menambahkan bahwa penyelenggaraan haji tahun ini juga diwarnai tantangan lain seperti penguatan sistem digitalisasi layanan haji, pengaturan jadwal penerbangan, pengelolaan kesehatan jemaah, serta koordinasi lintas instansi yang semakin kompleks.
Selain itu, meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap kualitas pelayanan mendorong PPIH Embarkasi Makassar untuk terus melakukan inovasi dan evaluasi secara berkelanjutan.
“Kami terus melakukan penguatan layanan, mulai dari sistem informasi, layanan kesehatan, koordinasi antarinstansi, hingga peningkatan kenyamanan jemaah. Harapannya seluruh proses penyelenggaraan haji dapat berjalan aman, tertib, lancar, dan memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh jemaah,” tandasnya.

