BMKG Rilis Prakiraan Iklim dan Musim Hujan, BPBD Sulbar Antisipasi Bencana Hidrometeorologi

SINARKATA.COM, MAMUJU – Menindaklanjuti informasi prakiraan iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Barat, Muhammad Yasir Fattah menginstruksikan seluruh jajaran BPBD Sulbar dan BPBD kabupaten untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan langkah mitigasi bencana hidrometeorologi di wilayah Sulawesi Barat. Hal itu ditegaskan di ruang kerjanya, Rabu, 7 Oktober 2026.

Langkah ini dilaksanakan sesuai arahan langsung dari Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Junda Maulana.

Penyampaian hasil monitoring iklim terkini dan Prediksi Musim Hujan 2026/2027. Dampak fenomena El Niño sangat kuat (+3.06°C pada September 2026) dan Indian Ocean Dipole (IOD) Positif (+0.782) telah memicu kekeringan berkepanjangan sebelum memasuki musim hujan.

Memasuki musim hujan, sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Barat, diprediksi mengalami pergeseran awal musim hujan (mundur) dan durasi musim hujan yang lebih pendek dari rata-rata normalnya.

Informasi ini ditujukan kepada seluruh jajaran BPBD kabupaten/kota se-Sulawesi Barat, instansi terkait, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta seluruh masyarakat Sulawesi Barat.

Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Sulawesi Barat diprediksi baru akan mulai memasuki wilayah pada bulan November hingga Desember 2026.

Adapun puncak musim hujan diprakirakan terjadi secara bertahap: sebagian besar wilayah Sulawesi Barat akan mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026, sedangkan wilayah Sulawesi Barat bagian selatan diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Februari 2027.

Prediksi pergeseran dan puncak musim hujan ini mencakup seluruh kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat. Wilayah Sulbar bagian selatan mendapat perhatian khusus pada Februari 2027 seiring potensi akumulasi curah hujan tinggi.

Karena awal musim hujan yang datang lebih lambat (mundur) dan durasi musim hujan yang lebih pendek, wilayah Sulbar masih berisiko mengalami kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang bulan Oktober 2026.

Selain itu, saat memasuki periode puncak musim hujan, timbul potensi curah hujan berintensitas tinggi hingga sangat tinggi yang memicu bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor.

Sesuai rekomendasi BMKG, BPBD Sulbar mengimbau seluruh pihak untuk mengambil langkah responsif:

  1. Kesiapsiagaan Bencana (BPBD & Masyarakat): Tetap waspada terhadap ancaman kekeringan pada Oktober 2026. Mengoptimalkan pembersihan sistem drainase serta menyiapkan jalur dan fasilitas evakuasi guna mengantisipasi banjir dan longsor menjelang puncak musim hujan.
  2. Sektor Pangan & Pertanian: Para petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman berumur pendek.
  3. Sektor Sumber Daya Air & Lingkungan: Memaksimalkan penampungan air hujan, pengelolaan drainase berkelanjutan, serta memantau kebersihan lingkungan guna mencegah lonjakan kasus penyakit pasca-banjir seperti Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kalaksa BPBD Sulbar, Muhammad Yasir Fattah menegaskan agar Pusdalops BPBD Sulbar senantiasa memantau perkembangan cuaca secara real-time melalui kanal resmi BMKG dan segera berkoordinasi dengan pihak kabupaten/kota jika terjadi kondisi darurat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *