SINARKATA.COM, MAKASSAR — Sosok sederhana bernama Hj. Jumaria (70) kembali mencuri perhatian saat tiba di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Kamis (11/6/2026).
Buruh tani asal Dusun Majanang, Desa Kurusumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros itu pulang dari Tanah Suci dengan senyum bahagia, membawa kisah perjuangan yang menginspirasi jutaan orang.
Perempuan yang dikenal sebagai Ikon Haji 2026 tersebut tiba bersama 392 jemaah Kloter 14 Debarkasi Makassar. Mengenakan pakaian serba mencolok dengan sentuhan bling-bling dan kacamata hitam khasnya, Jumaria tetap menjadi pusat perhatian sejak turun dari bus yang membawa rombongan dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Di balik penampilannya yang sederhana, tersimpan perjalanan panjang penuh kesabaran. Bertahun-tahun bekerja sebagai buruh tani dan menabung sedikit demi sedikit, akhirnya mengantarkan Jumaria mewujudkan impian terbesar dalam hidupnya: menunaikan ibadah haji.
“Alhamdulillah lancar. Masih capek habis penerbangan dari Arab Saudi,” ujar Jumaria sesaat setelah tiba di Aula Penerimaan Asrama Haji Sudiang.
Selama menjalankan rangkaian ibadah haji di Makkah dan Madinah, Jumaria mengaku tidak mengalami kendala berarti. Namun, kondisi kesehatannya sempat menurun setelah menjalani puncak ibadah haji.
“Waktu di Mina, dua hari demam. Setelah itu alhamdulillah kesehatan baik,” tuturnya.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi rasa syukur dan kebahagiaannya setelah berhasil menyempurnakan rukun Islam kelima.
Menariknya, baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air, Jumaria sudah menyimpan harapan untuk kembali ke Arab Saudi.
Keinginan itu bahkan telah dipanjatkannya saat menjalani wukuf di Arafah. “Ingin sekali kembali ke sana. Kalau ada rezeki, bisa kembali ke sana untuk umrah,” ungkapnya penuh harap.
Kerinduan terhadap Tanah Suci menjadi bukti betapa mendalam pengalaman spiritual yang dirasakan perempuan lanjut usia tersebut selama berada di Arab Saudi.
Sebagai bentuk kasih sayang kepada keluarga yang menanti di kampung halaman, Jumaria membawa sejumlah oleh-oleh khas Arab Saudi.
Di antaranya kurma dan lima boneka unta yang secara khusus dipersiapkan untuk cucu-cucunya.
“Bawa kurma dan lima boneka unta,” katanya sambil tersenyum.
Bupati Maros, H.A. Chaidir Syam, menyebut Jumaria bukan hanya kebanggaan Kabupaten Maros, tetapi juga simbol semangat jemaah haji Indonesia.
Menurut Chaidir, kisah Jumaria mendapat perhatian luas, termasuk dari Pemerintah Arab Saudi melalui program Makkah Route, karena kegigihannya menabung dari hasil bekerja sebagai buruh tani demi mewujudkan impian berhaji.
“Yang paling utama kita bahagia karena Ibu Hajjah Jumariah ini menjadi simbol keberangkatan haji Indonesia. Bukan hanya Maros, tetapi haji Indonesia yang mendapat perhatian dari pihak Saudi,” ujarnya.
Sekitar 40 hari lalu, menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci, sosok Jumaria viral di berbagai media. Tim dari Arab Saudi bahkan mendatangi kediamannya untuk mendokumentasikan kehidupan sehari-harinya sebagai buruh tani yang sedang mempersiapkan diri menuju ibadah haji.
Kini, setelah berhasil menuntaskan seluruh rangkaian ibadah dan kembali dengan selamat, Jumaria menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat diraih siapa saja. Dengan kerja keras, kesabaran, dan doa yang tidak pernah putus, seorang buruh tani dari pelosok Maros mampu menjadi inspirasi bagi Indonesia.
“Kalau ada rezeki, saya ingin kembali ke sana untuk umrah.” Kalimat sederhana itu menjadi penutup kisah seorang perempuan tangguh yang menjadikan keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

