SINARKATA, MAMUJU – Sektor perkebunan kini bukan lagi sekadar soal hasil panen komoditas mentah. Di Sulawesi Barat, Pemerintah Daerah mulai melirik potensi besar dari hilirisasi benih.
Melalui pengelolaan Kebun Sumber Benih Kakao yang tersertifikasi, daerah ini tidak hanya menjamin kualitas bibit bagi petani, tetapi juga berhasil menyulapnya menjadi sumber baru bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Hal ini sejalan dengan arahan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, yang mendorong penguatan ekonomi daerah berbasis potensi unggulan lokal, sektor kakao ditetapkan sebagai salah satu prioritas strategis.
Selama ini, PAD seringkali hanya bergantung pada pajak kendaraan atau retribusi pasar. Namun, seiring meningkatnya permintaan pasar dunia akan cokelat berkualitas, kebutuhan akan benih kakao unggul pun ikut melonjak.
Melihat peluang ini, Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat mengoptimalkan lahan produktif menjadi Kebun Sumber Benih atau KSB.
Di kebun ini, dibudidayakan klon-klon unggul seperti MCC-02 dan Sulawesi-Series yang memiliki daya tahan tinggi terhadap hama serta produktivitas yang melimpah.
“Kami melihat ada potensi ekonomi yang besar dari sektor perbenihan. Dengan legalitas sebagai Kebun Sumber Benih resmi, kita bisa menyuplai kebutuhan bibit tidak hanya untuk petani lokal, tapi juga luar daerah. Retribusi dari penjualan benih dan entres ini masuk langsung ke kas daerah sebagai PAD,” kata Kepala Dinas Perkebunan Sulbar, Muh. Faizal Thamrin, Kamis 16 April 2026.
Ia menegaskan, status “Tersertifikasi” menjadi kunci utama. Menurutnya, benih yang dihasilkan dari KSB ini memiliki nilai jual lebih tinggi karena kualitasnya terjamin oleh Balai Sertifikasi Benih.
“Para petani dan investor perkebunan kini lebih memilih membeli benih resmi milik Pemda karena kepastian hasil panen di masa depan,” ungkap Faizal.
Faizal menambahkan, selain menambah pundi-pundi daerah, keberadaan KSB ini juga menjadi pusat edukasi atau teaching farm bagi masyarakat sekitar, menciptakan lapangan kerja baru di sektor pembibitan.
“Langkah ini diharapkan dapat menjadi percontohan bagi daerah lain agar lebih kreatif dalam menggali potensi sumber daya alam yang ada. Jika dikelola dengan manajemen yang profesional, kebun benih bukan hanya sekadar lahan pertanian, melainkan aset investasi jangka panjang bagi kemandirian fiskal daerah,” ucap Faizal.

