SINARKATA.COM – Amerika Serikat (AS) menyatakan akan memasuki fase baru tekanan ekonomi terhadap Iran yang disebutnya sebagai “Economic D-Day.”
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington akan menggunakan berbagai instrumen untuk mengisolasi ekonomi Iran dan memutus sumber pendanaan pemerintah di Teheran.
Namun, pihak Iran justru menanggapinya bahwa AS sedang frutasi dan merupakan skenario daur ulang.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menyebut Amerika Serikat (AS) sedang merasa frustrasi setelah berbagai kampanye tekanan militer dan ekonomi terhadap Teheran berulang kali gagal.
Araghchi mencemooh langkah terbaru yang disebut Presiden AS Donald Trump sebagai “operasi ekonomi melumpuhkan”, hanyalah “skenario lama yang didaur ulang” dari kebijakan-kebijakan lama Washington terhadap Teheran. Ditegaskan Araghchi itu bahwa Iran sudah memahami cara menghadapinya.
Dalam pernyataannya, seperti dilansir Tasnim News Agency, Senin (24/8/2026), Araghchi menyebut AS telah menggunakan berbagai istilah selama bertahun-tahun, mulai dari “sanksi yang melumpuhkan” pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama hingga kampanye “tekanan maksimum” di masa jabatan pertama Trump dan “sanksi yang menghancurkan” di era pemerintahan Trump saat ini.
Menurut Menlu Iran itu, semuanya mencerminkan kebijakan intimidasi Washington yang sudah lama diterapkan.
“Ini adalah film lama yang diputar ulang, dan kami sudah sangat hafal jalan ceritanya dan mengetahui bagaimana cara menghadapi dan menanganinya,” kata Araghchi saat berbicara di sela-sela kunjungan ke makam mendiang pendiri Iran, Imam Khomeini, pada Minggu (23/8) waktu setempat, dikutip dari Detik.
Araghchi mengatakan bahwa AS sebelumnya mengancam Iran dengan “operasi militer” dan serangan-serangan, sebelum akhirnya kembali ke rencana-rencana lama mereka yang berfokus pada tekanan ekonomi.
Peralihan semacam ini, menurut Menlu Iran tersebut, menunjukkan rasa frustrasi dan ketidakmampuan Washington dalam menemukan cara efektif untuk menghadapi Teheran.
“Fakta bahwa mereka kembali mengerahkan rencana-rencana lama mereka, setelah sebelumnya mengandalkan operasi militer dan ancaman untuk melancarkan serangan serta melakukan hal ini dan hal itu, menunjukkan bahwa mereka sedang putus asa,” tambahnya.

